Kamis, 21 Mei 2009

Sebuah Cerita Cinta Tentang 2 Perbedaan 1 Hati

Sahabat..dan kamu yang aku sayangi dimana pun kamu berada. Aku ingin menceritakan sebuah kisah cinta, yang aku kutip dari blog pribadinya seseorang. Dan aku mengucapkan terima kasih pada yg punya blog, semoga tulisan anda bisa menginspirasi semua para pejuang cinta dan yang percaya akan kekuatan cinta dan misteri Jodoh..Berikut ini dalah sepenggal ceritanya..

Sebuah Cinta Sunda-Tionghoa

Perkenalan aku ma istri boleh dibilang unik, pertama kali aku mengenal sosok istriku adalah ketika pertama kali aku penempatan kerja di KPP Serang (sekarang KPP Pratama Serang), dan istriku saat itu lagi PKL disana hehehehe (dasar).

Dan ternyata emang dasar jodoh kali ya, Kepala Kantor memerintahkan agar semua pegawai baru supaya mengisi rumah dinas pajak yang saat itu emang lagi kosong so termasuk aku tuh yang notabene pegawai baru musti ngikutin instruksi Kepala Kantor…dan tahunya eh istriku (sekarang red) tuh ternyata tinggal deket komplek pajak..dan makin nyambung deh PDKT ku saat itu.

Namun yang jelas ini semua adalah awal manis dan dukanya aku memulai hubungan yang jelas dengan kondisi perbedaan yang begitu kuat baik kultur budaya dan agama. Ya keluarga istriku merupakan keturunan Tionghoa dan mertuaku adalah penganut agama budha dan anak-anaknya ada yang menganut Kristen dan Budha, sedangkan aku sendiri adalah seorang muslim tapi gimana lagi yang namanya jodoh justru perbedaan ini makin menguatkan hubungan kami saat itu dan kami juga tahu perbedaan yang ada kelak akan menjadikan rintangan yang berat kamui berdua…

Dua Perbedaan satu cinta

2 Perbedaan 1 Hati adalah slogan saya yang selalu saya gunakan, ya itu semua karena menyangkut kisah perjalanan cinta kami yang berusaha dan sebisa mungkin memadukan perbedaan-perbedaan selama ini ketika masih pacaran dan setelah menikah. Dan yang terberat adalah ketika perbedaan agama yang begitu mengganjal dalam hati kami masing-masing menjadi sebuah rintangan yang ditentang oleh orang tua istriku saat itu.

Tak mudah memang memadukan perbedaan untuk dijadikan sebuah persamaan, didalamnya butuh pengorbanan yang musti dilakuin oleh kedua-duany

a tapi ketika menyangkut masalah akidah mau tidak mau harus salah satu yang mengalah. Cinta memang tak pernah mengenal suku bangsa ataupun warna kulit, pertemuan kami adalah pertemuan yang sudah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa.

Mungkin ini adalah Rahasia Jodoh dari Allah selain rezeki dan kematian, ternyata dialah jodohku walau udah tahu yang akan terjadi seandainya cinta kami bersemi, tapi itulah cinta karena saat itu kami hanya ingin menikmati masa muda kami tak pernah terpikirpun seandainya cinta kami lebih dalam maka perbedaan yang ada akan menjadi letupan

disetiap perjalanannya, satu pandangan saat itu adalah toh ini hanya pacaran masalah nikah belum terpikirkan namun ketika kami satu sama lain salaing merasakan kecocokan dan saling mengisi kekosongan yang ada hampir selama 5 tahun, bentangan perbedaan yang terpendam secara perlahan mulai meletup kepermukaan….awalnya kami mampu tapi lama-kelamaan kami pun tak kuasa menahannya.

Kata putus adalah sebuah perpisahan yang harus saya jalani pertama kali dengan dirinya di tahun 2003 tapi ya itu dia karena cinta akhirnya kami kembali bersatu dan terucap lagi kata putus dan tersambung kembali kata cinta di hati kami.…sungguh kebimbangan saya terasa makin berat, tapi ketika saya tumpahkan isi hati saya lewat Shalat Istikhoroh yang saya lakukan akhirnya kemantapan pilihan itu datang…..ya akhirnya saya memilih 1 hati yang penuh dengan perbedaan karena hati itu telah mengorbankan sesuatu yang saklar dalam hidupnya…yaitu pindahnya keyakinan khalisa (nama islam istriku) ke keyakinan yang saya anut.


Akhirnya perjalanan yang penuh liku itu saya tumpahkan dihari saklar kami berdua yaitu 26 Juni 2005, ketika berada dipangkuan ibu saya…saya menangis sejadi-jadinya…..sedih dan bahagia bercampur jadi satu..mengingat saat itu pernikahan kami tanpa ditemani kedua orang tua dan saudara dari isitriku…..ya pernikahan itu terjadi ditempat saya (mempelai pria).

Itulah 2 Perbedaan yang menjadi 1 Hati, teringat sebuah sms yang dulu pernah saya kirim kepada istri saya sampai istri saya menagis……“….Jika suatu hari aku mati, aku berharap berada dipangkuan kamu sayang dan aku harap kamu tetap tersenyum….”

Seiring dengan keyakinan kami masing-masing bahwa kami emang berjodoh maka pada bulan Januari tahun 2005 istriku akhirnya mengikrarkan diri menjadi seorang Muallaf dan akhirnya kami menikah pada ta tanggal 26 Juni 2006 dan sekarang kami udah dikarunia seorang anak yang cantik dan Insya Allah tahun depan mungkin bulan juli akan lahir anak kami berdua……..


Tidak ada komentar:

Posting Komentar