Aku taruh koran dan melihat anak PEREMPUANKU, namanya AURELL tampak ketakutan, air matanya banjir di depannya ada semangkuk nasi berisi nasi, ayam, susu yogurt. AURELL anak yang manis dan termasuk pintar dalam usianya yang baru 8 tahun. Dia sangat kalo disuruh makan masakan dengan menu ayam dan meminum susu yogurt.
Aku mengambil mangkok dan berkata AURELL sayang, demi Dady(ayah), maukah kamu makan beberapa sendok aja? Kalau tidak, nanti ibumu akan teriak-teriak sama Dady.
Aku bisa merasakan istriku cemberut di belakang punggungku. Tangis AURELL mereda dan ia menghapus air mata dengan tangannya, dan berkata “boleh Dad akan saya makan tidak hanya beberapa sendok tapi semuanya akan saya habiskan, tapi saya akan minta” agak ragu2 sejenak “akan minta sesuatu sama Dady(ayah) bila habis semua nasinya. Apakah Dady(ayah) mau berjanji memenuhi permintaan saya?”
Aku menjawab “oh pasti, sayang.”
AURELL tanya sekali lagi, “betul nih Dad ?”
“Yah pasti sambil menggenggam tangan anakku yang kemerah mudaan dan lembut sebagai tanda setuju.”
AURELL juga mendesak ibunya untuk janji hal yang sama, istriku menepuk tangan AURELL yang merengek sambil berkata tanpa emosi, janji kata istriku. Aku sedikit khawatir dan berkata: “AURELL jangan minta Laptop atau barang2 lain yang mahal yah, karena ayah saat ini lagi enabung untuk kuliahnya AURELL kan ?.”
AURELL menjawab : jangan khawatir, AURELL tidak minta barang2 mahal kok. Kemudian AURELL dengan perlahan-lahan dan kelihatannya sangat menderita, dia bertekad menghabiskan semua nasi susu asam itu. Dalam hatiku aku marah sama istri dan ibuku yang memaksa AURELL untuk makan sesuatu yang tidak disukainya.
Setelah AURELL melewati penderitaannya, dia mendekatiku dengan mata penuh harap, dan semua perhatian (aku, istriku dan juga ibuku) tertuju kepadanya. Ternyata AURELL mau kepalanya digundulin/dibotakin pada hari Minggu. Istriku spontan berkata permintaan gila, anak perempuan dibotakin, tidak mungkin. Juga ibuku menggerutu jangan terjadi dalam keluarga kita, dia terlalu banyak nonton TV dan program2 TV itu sudah merusak kebudayaan kita.
Aku coba membujuk: AURELL kenapa kamu tidak minta hal yang lain kami semua akan sedih melihatmu botak. Tapi Sindu tetap dengan pilihannya, tidak ada yah, tak ada keinginan lain, kata AURELL. Aku coba memohon kepada AURELL : tolonglah kenapa kamu tidak mencoba untuk mengerti perasaan kami.
Sindu dengan menangis berkata : ayah sudah melihat bagaimana menderitanya saya menghabiskan nasi, susu, asam itu dan ayah sudah berjanji untuk memenuhi permintaan saya. Kenapa ayah sekarang mau menarik/menjilat ludah sendiri? Bukankah Ayah sudah mengajarkan pelajaran moral, bahwa kita harus memenuhi janji kita terhadap seseorang apapun yang terjadi seperti dalam cerita yang pernah ayah sampaikan tentang seorang Raja India jaman dahulu kala untuk memenuhi janjinya rela memberikan tahta, harta/kekuasaannya, bahkan nyawa anaknya sendiri.
Sekarang aku memutuskan untuk memenuhi permintaan anakku : janji kita harus ditepati. Secara serentak istri dan ibuku berkata : apakah aku sudah gila? Tidak, jawabku, kalau kita menjilat ludah sendiri, dia tidak akan pernah belajar bagaimana menghargai dirinya sendiri. Sindu, permintaanmu akan kami penuhi. Dengan kepala botak, wajah AURELL nampak bundar dan matanya besar dan bagus.
Hari Senin, aku mengantarnya ke sekolah, sekilas aku melihat AURELL botak berjalan ke kelasnya dan melambaikan tangan kepadaku. Sambil tersenyum aku membalas lambaian tangannya.
Tiba2 seorang anak laki2 keluar dari mobil sambil berteriak : AURELL tolong tunggu saya. Yang mengejutkanku ternyata, kepala anak laki2 itu botak.
Aku berpikir mungkin”botak” model jaman sekarang. Tanpa memperkenalkan dirinya seorang wanita keluar dari mobil dan berkata: “anak anda, AURELL benar2 hebat. Anak laki2 yang jalan bersama-sama dia sekarang, Harish adalah anak saya, dia menderita kanker leukemia.”
Wanita itu berhenti sejenak, nangis tersedu-sedu, “bulan lalu Harish tidak masuk sekolah, karena pengobatan chemo therapy kepalanya menjadi botak jadi dia tidak mau pergi ke sekolah takut diejek/dihina oleh teman2 sekelasnya. Nah Minggu lalu AURELL datang ke rumah dan berjanji kepada anak saya untuk mengatasi ejekan yang mungkin terjadi. Hanya saya betul2 tidak menyangka kalau AURELL mau mengorbankan rambutnya yang indah untuk anakku Harish. Tuan dan istri tuan sungguh diberkati Tuhan mempunyai anak perempuan yang berhati mulia.”
Aku berdiri terpaku dan aku menangis, malaikat kecilku, tolong ajarkanku tentang kasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar